Curug Nangga, Pekuncen, Banyumas yang Eksotis

Banyumas Punya Seribu Curug


Ini adalah cerita dimana saya dan tiga teman saya; Novi Arifin, Untung, dan Ujek Hartono tersesat. Awalnya, kami mau menuju ke Curug Kalimiawak di wilayah Barat Banyumas. Namun, kami tersesat karena jalan menuju curug Kalimiawak tidak ditemukan.
Namun, Allah SWT masih sayang pada kami. Kami justru dituntun menuju curug yang maha dahsyat. Curug yang masih asri berikut pemandangannya. Curug di satu desa di Banyumas barat (maaf, bagi yang ingin tahu, silakan inbox saja. Pasti kubalas).
    Kalau melihat hamparan sawahnya, serasa di ubud Pulau Bali (#yakinlah, temenan lah). Kalau melihat kampung di atas curugnya, laksana kampung-kampung di film film cerita biksu (#ora nglombo, temenan lah). Kalau melihat keramahan warganya (petani ladang dan petani sawah), so pasti itu di Banyumas bro (#ora nglombo, bangga dadi wong ngapak).
Ya, awalnya, kami memang tersesat sampai melintasi satu desa dari tujuan awal. Kemudian, bertanya ke perangkat desa menuju lokasi tersebut. Sang Perangkat desa bernama Sukmono itu, langsung saja menunjukan kami sebuah curug di desanya.

    Kepalang tanggung, kepalang basah, basah sekalian saja.
    "Ayo pak, kita kemon (come on). Aku ikut saja,"  kata kami.
    Kami mengikutinya. Di parkiran salah satu rumah warga, dimana titik terakhir kami menitipkan sepeda motor, kami sudah disambut dengan keramahan khas warga. keramahan, dimana setiap kali bertemu/berpapasan, senyum sungging tanpa malu selalu menyapa.
   Benar-benar asri. Benar-benar pula khas orang asli Banyumas! Tepatnya, khas orang-orang yang sampai sekarang belum tersentuh oleh kecanggihan teknologi seperti saya.
    Jalan menuju Curug itu, masih makadam. Berupa pematang sawah, jalan setapak, sampai undak-undakan dari batu. Perjalanan sekitar satu kilo menuju lokasi itu.
    Baru masuk ke pematang sawah! curug sudah terlihat samar. Hah, panjang sekali curugnya! Buih putihnya sudah kentara.
    "Itu Curug Nangga namanya," kata Sukmono
    Semakin mendekat, semakin mata dibuat terbelak. Laksana sebuah tempat di negeri impian, Curug itu nyata di depan mataku. Ibarat sebuah foto kotak (sesuai imajinasi kami), maka berisi sawah yang menghampar berundak, pak tani yang sedang menebar pupuk, kemudian berlatar belakang sebuah Curug. Klop, foto impian bagi kami!
    Semakin mendekat lagi, semakin takjub. Begitu sampai di zero point, derasnya air yang turun dari tebing bertingkat tujuh itu memercik muka. Bahkan, menampar muka untuk selalu berucap, Subhanalloh.
    
Dari cerita rakyat di situ, Curug Nangga atau disebut memiliki ambal pitu itu pernah menjadi lokasi Sunan Kalijaga bertapa. Namun, cerita itu belum pernah dilakukan penelitian dengan menelusuri jejak alam, maupun berbagai peninggalan di sekitar lokasi itu. Cerita baru cerita. Biarlah menjadi kisah unik dari sebuah tempat.


 Keep The World Green!
    Oh ya, sekali lagi. Di tempat itu, kami bertemu dengan petani. Kami pun diberi kelapa (degan) hijau muda. Bahkan, saat pulang, dimana kami mau mengambil motor, sang pemilik rumah menawarkan cimplung pisang. Sungguh, cimplung pisang itu hanya ada di lokasi tersebut (nantikan fotonya ya.. )



NB: Kami sadar untuk tidak mengumbar rute di tulisan ini. Saya sadar, karena saya risau kalau diumbar di sini, ribuan orang akan datang. (Sementara ini, Biar menjadi kunjungan orang-orang terbatas yang datang lebih dulu. Nantinya, kalau pihak desa sudah siap mengelola, pasti ini akan menjadi wisata eksotik yang luar biasa di Banyumas.

Oh iya, ini saya ada link videonya : 




Komentar